Kamis, 01 Desember 2011

MAKALAH


LOGO UIR


TUGAS INDIVIDU
PUISI
JENIS-JENIS GAYA BAHASA DAN
 FAKTOR KEBAHASAAN DALAM PUISI
Dosen Pembimbing  : Drs Darusman AR, M.Pd

Disusun Oleh  : WIWIT
Kelas:  3 A

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2011


KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, atas  berkat rahmat-Nya jualah penulis dapat menyelesaikan makalah puisi ini dengan tepat waktu.
 Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui dan mmemahami  tentanggaya bahasa dalam puisi. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu, terutama pada dosen pembimbing bapak Drs. Darusman AR,M.Pd  dan media elektronik yang telah membantu dalam penngetikan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca. Kritik dan saran penulis harapkan untuk kesempurnaan dalam penulisan makalah selanjutnya.


Pekanbaru, 30  september 2011

 penulis







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1      Latar Belakang
1.2      Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Gaya bahasa
2.2 jenis-jenis gaya bahasa
2.3 gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat
2.4 gaya bahasa retoris
2.5 faktor kebahasaan dalam puisi
BAB III PPENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran




BAB I PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Sebagai kegiatan yang terencana, pendidikan islam memiliki kejelasan tujuan yang ingin dicapai, dengan kata lain pendidikan islam memiliki visi dan misi, yang dimaksud dengan visi disins adalah sebuah citi-cita yang ingin dicapai, visi pendidikan islam sesungguhnya melekat pada visi ajaran islam mulai dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad SAW, yaitu membangun sebuah kehidupan manusia  yang patuh dan tunduk kepada Allah SWT.


1.2   Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan pembaca tentang gaya bahasa dalam puisinya.



BAB II PEMBAHASAN


2.1 GAYA BAHASA

Gaya bahasa merupakan salah satu unsur  dari sebuah puisi. Gaya bahasa adalah cara khas menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau  lisan (moelino, 1989).dalam puisi, penyair berusaha menyampaikan ide, perasaan dan pikirannya dengan menggunakan bahasa yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak indah dan penuh makna. Oleh karena itu, untuk dapat membaca puisi dengan baik,memahami, memaknai, menganalisis, dan mengajarkan puisi, kita harus memahami gaya bahasa tersebut.

2.2 Jenis-jenis gaya bahasa                                                          
Gaya bahasa itu menghidupkan kalimat dan member gerak pada kalimat. gaya bahasa itu untuk menimbulkan reaksi tertentu, untuk menimbulkan tanggapan pikiran kepada pembaca (pradopo, 1987). Setiap pengarang biasanya mempunyai gaya bahasa sendiri, hal ini sesuai dengan sifat dan kegemaran masing-masing pengarang. Pengarang menggunakan gaya bahasa yang bermacam-macam untuk mengungkapkan pikiran dan pembacanya.gaya bahasa sebenarnya merupakan bagian dari diksi atau pilihan kata. Karena yang dibicarakan disini puisi maka diksi atau pilihan kata tersebut dilihat penggunaannya dalam sebuah puisi. Yang dipersoalkan adalah tepat tidaknya pemakaiyan kata, frase, dan kalimat untuk menggambarkan situasi tertentu dan maksud tertentu.
Untuk memahami dan menggunakan gaya bahasa yang baik, anda perlu mengetahui unsure-unsur yang perlu ada di dalamnya. Gaya bahasa yang baik harus mangandung tiga unsure yaitu: kejujuran,sopan santun, dan menarik (keraf,1987).
1.      Kejujuran
Dalam menggunakan gaya bahasa, anda dituntut untuk berlaku jujur terhadapnya. Kejujuran dalam bahasa berarti anda harus mengikuti aturan-aturan, kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Dalam mengungkapkan pikiran, anda perlu menggunakan kalimat yang panjang dan berbelit-belit yang menyulitkan pembaca untuk memahaminya, penggunaan kata-kata yang kurang tepat dan tidak terarah serta penggunaan kalimat  yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidak jujuran.
2.      Sopan-santun                                                                                                                       Yang dimaksud dengan sopan-santun adalah member penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau pembaca.
3.      Menarik

Dalam penggunaan gaya bahasa, syarat kejujuran, kejelasan,  dan kesingkatan baru merupakan langkah awal, syarat lainya yang harus dipenuhi adalah penggunaan gaya bahasa tersebut menarik.

Dilihat dari segi bahasa, ada beberapa jenis gaya bahasa. Karaf (1987) mengatakan, ada gaya bahasa berdasarkan pilihan kata, yaitu gaya bahasa resmi, gaya bahasa tidak resmi, dan gaya bahasa percakapan. Ada gaya bahasa yang berdasarkan nada, yaitu gaya sederhana, gaya mulia, dan bertenaga, serta gaya penengah.

2.3 Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat 

Struktur sebuah kalimat dapat dijadikan sebagai dasar untuk menciptakan gaya bahasa. Struktur kalimat yang dimaksud adalah di mana letak  sebuah unsur kalimat yang dipentingkan dalam kalimat tersebut.  Dari hal tersebut kita mengenal ada kalimat yang bersifat periodik, kendur, dan kalimat berimbang (keraf,1987). Berdasarkan ketiga macam struktur  kalimat tersebut di atas, maka dapat diperoleh gaya bahasa: klimaks, antiklimaks, paralelisme, antithesis, dan repetisi.
Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dari langsung  tidaknya makn aitu apakah acuan yang di pakai masih mempertahankan makna dasar, makna bahasa masih bersifat polos. Gaya bahasa di kelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu gaya bahasa retoris. Yang semata-mata merupakan penyimpangan dari konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan.


2.4 Gaya bahasa retoris

Dalam puisi, gaya bahasa retoris ini termasuk salah satu gaya bahasa yang sering digunakan oleh penyair. Anda pasti sering menemukan gaya bahasa ini dalam membaca puisi ataupun ketika mendengarkan pembacaan puisi. Gaya bahasa retoris yang sering kita temukan  dapat dikelompokkan menjadi beberapa macam. Adapun gaya bahasa retoris yang sering digunakan oleh penyair dalam mengungkapkan idenya antara lain  adalah:
1.      Alitrasi
Aliterasi adalah gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama.
2.      Asonansi
Asonansi adalah gaya bahasa yang berupa perulangan bunyi vocal yang sama.
3.      Anostrof
Anastrof adalah gaya bahasa yang diperoleh dengan cara membalikkan susunan kalimat yang biasa.
4.      Apofasis preterisio
Apofasis preterisio adalah gaya bahasa yang menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkal.
5.      Apostrof
Apostrof adalah gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada suatu yang tidak hadir.
6.      Asindenton
Asidenton adalah gaya bahasa yang menyebutkan banyak orang, atau sifat yang berturut-turut dengan tidak banyak menggunakan kata penghubung.
7.      Polisindenton
Polisindenton adalah gaya bahasa kebalikan dari asindenton.
8.      Kiasmus
Kiasmus adalah gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frase atau klausa, yang sifatnya seimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
9.      Ellipsis
Ellipsis adalah gaya bahasa yang menggunakan kalimat elips, artinya ada kata-kata dalam kalimat tersebut yang dihilangkan.
10.  Tautology
Tautology adalah gaya bahasa penyebutan atau pengulangan kata yang telah disebut-sebut dengan kata-kata yang sama atau hamper sama artinya.
11.  Paradoks
Paradox adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada.
12.  Hiperbal
Hiperbal adalah gaya bahasa yang mengandung suatu peryataan yang berlebihan.

2.5 faktor kebahasaan dalam puisi
Bahasa puisi bersifat khas, berbeda dengan bahasa prosa. Dalam puisi, penyair kadang menggunakan bahasa yang lain dari bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Untuk mendapatkan irama yang liris dan membuat kepadatan, kesegaran serta ekspresitas yang lain, penyair bias banyak membuat penyimpangan dari tata bahasa normative dalam puisi-puisinya. Berikut ini contoh-contoh faktor kebahasaan dalam puisi.
1.      Penyingkatan atau pemendekan kata
Dalam puisi modern sering kita jumpai kata-kata yang  dipendekkan.
2.      Penghilangan imbuhan
Imbuhan yang biasanya dihilangkan oleh penyair untuk mendapatkan efek puitisnya yaitu awalan,akhiran,ataupun awalan dan akhiran.
3.      Penghapusan tanda baca
Penyair juga sering menghapuskan tanda baca dalam puisi-puisi yang ditulisnya.
4.      Pemutusan kata
Kita sering menjumpai puisi yang di dalamnya terdapat kata-kata yang diputus. Penyair yang terkenal dengan pemutusan kata-kata dalam puisinya adalah sutardji calzoum bachri.
5.      Penggabungan atau perangkaian dua kata atau lebih
Efek yang ditimbulkan dengan penggabungan kata-kata tersebut adalah adanya kesan melebihi-lebihkan.
6.      Penyimpanan struktur sintaksis
Kita juga sering menjumpai penyimpangan-penyimpangan dari struktur sintaksis yang normative. Hal ini dilakukan oleh penyair untuk mendapatkan irama yang liris, kepadatan, dan ekspresivitas.






BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Gaya bahasa dalam puisi merupakan salah satu unsure dari sebuah puisi. Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan dalam puisi penyair menyampaikan ide, perasaan, dan pemikirannya dengan menggunakan bahasa yang dibuat sedemikian rupa sehingga tampak indah, dan penuh makna.


3.2 SARAN
Makalah ini penulis susun berdasarkan literature yang penulis miliki. Mudah-mudahan tugas ini dapat bermanfaat bagi para penulis dan pembaca. Dan sebagai generasi penerus bangsa, terutama jurusan bahasa dan sastra Indonesia,mulailah dari sekarang untuk mengembangkan karya sastra dengan belajar berkarya dan terus berkarya. Jika dalam penyajian makalah ini terdapat kesalahan, kritik dan saran dari pembaca kami terima sebagai instropeksi diri agar dalam pembuatan tugas selanjutnya bisa lebih baik dan bisa ditingkatkan lagi dan semua ini demi kesempurnaan untuk kedepannya.






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar